Running TEXT

1."Ho do Tuhanku" 2."Trima kasih buat kebaikanMu" 3."Hingga akhir hidupku"

Rabu, 29 Oktober 2008

Sabtu, 04 Oktober 2008

Daniel 4:28-37

HATI YANG CONGKAK

Raja Surga ... yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak

(Daniel 4:37)

Setelah diperingatkan oleh Daniel perihal kesombongannya, raja Babel, Nebukadnezar, menjadi gila. Tuhan baru memulihkan akal budinya setelah ia menghabiskan waktu tujuh tahun di padang dengan menganggap dirinya seekor binatang buas.

Nebukadnezar berubah dari orang sombong yang berkata, "Bukankah itu Babel yang besar itu, yang ... untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?" (Daniel 4:30) menjadi seorang pendoa rendah hati yang mengatakan, "Aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Surga" (ayat 37). Ia telah bertobat dari kesombongannya yang luar biasa.

Guru Alkitab, J.Vernon McGee mengungkapkan keprihatinannya terhadap kecongkakan dalam gereja saat ini. Ia menasihati para pemimpin gereja, "Jangan coba-coba membangun kecongkakan sedikit pun di tengah jemaat. Saya memulai dengan pandangan itu, dan saya menjadi lebih bahagia sesudahnya." Ia mendorong mereka untuk "membangun jiwa-jiwa umat" dan menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Ketika sebuah gereja mengerahkan tenaga yang tidak semestinya hanya untuk meningkatkan statistik, membangun gedung, dan memperjuangkan program gereja, kecongkakan dapat masuk dan kebutuhan umat Allah justru terlupakan.

Yesus tidak pernah melupakan pentingnya setiap individu. Dia menginvestasikan waktu untuk mengajar 12 murid-Nya (Markus 3:14). Paulus mengajar Timotius yang selanjutnya juga akan mengajar orang lain lagi (2Timotius 2:2). Kerajaan Allah bertumbuh apabila kita mencurahkan waktu untuk memerhatikan sesama - HF

SAYANG SEKALI JIKA GEREJA MENILAI PROGRAM GEREJA

LEBIH PENTING DARIPADA JEMAAT
Jumat, 03 Oktober 2008
1Korintus 3:5-15
LAKUKAN SEMAMPUNYA
Baik yang menanam mau-pun yang menyiram adalah sama;
dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri
(1Korintus 3:8)

Kadang kala kita merasa putus asa karena apa yang kita kerjakan bagi Tuhan tampaknya gagal. Anak-anak di kelas Sekolah Minggu yang kita ajar tampak gelisah dan kurang memerhatikan apa yang kita sampaikan. Para tetangga yang coba kita perkenalkan kepada Injil tampak acuh tak acuh. Para anggota keluarga kita sendiri tampak jauh dari Tuhan. Dunia yang kita doakan dengan penuh kesungguhan di hadirat Allah tampaknya kian hari kian kejam dan anti terhadap orang kristiani. Semua ini membuat keputusasaan kita semakin mendalam.
Perhatikanlah perkataan seorang rohaniwan asal Salvador yang dibunuh karena kritiknya yang berani atas kekerasan dan ketidakadilan. Ia menulis demikian, "Kita menanam benih yang kelak akan tumbuh. Kita menyirami benih yang telah ditanam, karena kita tahu bahwa benih itu menawarkan janji yang akan terwujud di masa yang akan datang. Kita meletakkan dasar yang kelak membutuhkan pertumbuhan lebih lanjut .... Kita tidak dapat melakukan semuanya, dan itu artinya harus ada kerelaan untuk melepaskan." Sikap seperti ini akan membantu kita untuk mengerjakan perkara-perkara kecil, dan membuka "kesempatan yang akan dimasuki dan dikerjakan selebihnya oleh anugerah Tuhan".
Sama seperti di atas, Rasul Paulus juga mendorong kita untuk setia pada tugas kita dan menantikan Allah yang "memberi pertumbuhan" (1Korintus 3:6,7).
Jangan biarkan keputusasaan menghentikan langkah Anda. Sesuai dengan waktu yang ditetapkan oleh Allah, pekerjaan kita akan menghasilkan buah - VG

ANDA ADALAH ORANG YANG SUKSES DALAM KERAJAAN ALLAH
JIKA SETIA DI TEMPAT ANDA DILETAKKAN OLEH-NYA

Kamis, 02 Oktober 2008

Efesus 4:1-3

OLAHRAGA DAN KERENDAHAN HATI

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar.

Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu

(Efesus 4:2)

Pada bulan Mei 2003, sekolah putri saya, Melissa, memberikan penghargaan yang besar dengan mempersembahkan lapangan atletik baru di sekolah itu untuk mengenang Melissa. Pada upacara untuk menandai pembukaan Melissa Branon Memorial Softball Field, sekolah itu membuka selubung batu peresmian untuk mengingatkan generasi selanjutnya akan seorang gadis yang mengenakan kaus bernomor 11.

Pada batu peresmian itu tertulis: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dengan saling membantu" (Efesus 4:2)-sebuah ayat yang telah Melissa tandai di Alkitabnya.

Betapa seringnya dalam hidup ini kerendahan hati dan kelemahlembutan tidak lagi dimiliki. Sebaliknya, kesombongan dan kekasaran menandai ukuran kesuksesan. Namun, Melissa dan teman-temannya dapat bertanding dengan sukses dalam olahraga atletik tingkat sekolah menengah tanpa menunjukkan sifat-sifat tadi.

Salah seorang teman satu tim Melissa menulis tentang Melissa: "Sikapmu yang pantang mundur, maju terus, dan pantang menyerah benar-benar membangkitkan semangatku." Itulah cara Melissa dan teman satu timnya bertanding demi kemuliaan Allah, yaitu tanpa kesombongan.

Persaingan yang dikendalikan dengan benar dapat berlangsung dengan baik dalam kehidupan kita. Akan tetapi, kita harus senantiasa ingat untuk tetap rendah hati dan lemah lembut dalam segala hal yang kita lakukan. Kita harus mencerminkan karakteristik kehidupan yang serupa dengan Kristus - JB

BERSIKAPLAH RENDAH HATI MAKA ANDA TIDAK AKAN TERANTUK

Rabu, 01 Oktober 2008

Efesus 4:11-16

UKURLAH SAYA

Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya

(Lukas 2:52)

Maukah Anda mengukur tinggi badan saya hari ini?" tanya Caleb, pengantar koran kami. Ini bukan kali pertama ia meminta hal itu. Beberapa tahun silam, saya pernah mengatakan bahwa ia bertambah tinggi. Sejak itu, kami kerap mengukur tinggi badannya dengan papan di dinding bagian luar rumah kami. Itu sebabnya hingga saat ini ia masih suka meminta saya mengukur tinggi badannya.

Pengukuran dapat menjadi penanda pertumbuhan. Mengukur pertumbuhan rohani kita merupakan ide bagus. Sebagai contoh: Apakah saya meluangkan waktu untuk membaca firman Allah dan berbicara dengan-Nya setiap hari? Apakah saya rindu bersekutu dengan Tuhan? "Buah Roh" apa yang tampak dalam hidup saya? Apakah saya berbicara tentang Yesus kepada orang yang belum mengenal-Nya? Bagaimana saya menggunakan karunia rohani? Apakah saya suka memberi dan pemurah? Seberapa besar pening-katan kualitas saya dalam mengenal Allah hari ini dibanding tahun lalu? Berbagai pertanyaan ini merupakan indikator yang baik untuk mengukur pertumbuhan rohani.

Seorang anak sepertinya tumbuh besar dengan tiba-tiba, tetapi sesungguhnya hal itu merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Seperti halnya Yesus tumbuh dalam hikmat dan fisik-Nya, kita sebagai orang kristiani harus terus "bertumbuh(lah) dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus" (2Petrus 3:18). Kita bukan lagi anak-anak, tetapi kita diminta untuk "bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala" (Efesus 4:14,15). Sudahkah Anda mengukur diri Anda akhir-akhir ini? - CK

KESELAMATAN ADALAH MUKJIZAT DALAM SEKEJAP

PERTUMBUHAN ADALAH UPAYA SEPANJANG MASA